Sabtu, 21 Januari 2017

KAJIAN BIMA SAKTI SECARA KONTEKSTUAL BENAR TAPI SECARA TEKSTUAL MASIH PERLU KITA PERBAIKI





KINI MEMANG MENARIK PERSOALAN DI INDONESIA.
 DULU PERSOALAN MANUSIA ADALAH 
PENYEMBAH BERHALA
KINI MEMANG KEBANYAKAN 
MANUSIA TIDAK LAGI NYEMBAH BERHALA 
TETAPI 
SECARA FILOSOFIS MEREKA TIDAK JAUH BERBEDA 
DENGAN PENYEMBAH BERHALA
 INI NAMANYA 
PENGANUT TRINITAS MODERN
MUSLIM YANG INTOLERAN TIDAK JAUH BERBEDA 

DENGAN KAFIR HARBI

KOMEN KITA INI BUKAN UNTUK MENDISKREDITKAN PROPESSOR TERSEBUT TETAPI UNTUK MENYEMPURNAKAN KAJIAN BELIAU. SEMOGA BELIAU MENERIMA CATATAN PENTING SAYA INI





Ketika kita membela Ahok tidaklah berarti Ahok lebih Islami dari Muslim benaran tetapi Ahok lebih Islami daripada Islam KTP atau seluruh presiden Indonesia kecuali Jokowi. Dengan kata lain saya hendak mengatakan bahwa semua presiden Indonesia munafiq kecuali Jokowi dan BJ Habibi yang perlu digarisbawahi. Kemunculan Ahok, non Islam yang jujur, pintar, adil dan berani, mengundang rakyat Indonesia pada umumnya untuk berfikir bahwa bagaimana mungkin non Moslem lebih baik dari pada Moslem. Yang pasti Moslem lebih baik daripada non Moslem, kenapa yang kita saksikan kebalikannya? Apanya yang salah?  Disinilah kita diperintahkan Allah agar kaum muslimin benaran berpikir secara kritris ketika melihat fenomema yang menyelimet seperti ini. Saat kita berafala ta'qilun dan afala yatazakkarun, barulah kita mampu mengambil konklusinya bahwa Ahok lebih Islami dari pada Islam KTP bukan dari Islam benaran. Insya Allah nanti akan saya tunjukkan pemimpin yang Islami, hingga Ahokpun pasti mengaguminya. Semoga Ahok berkesempatan mempelajari literatur Islam murni, bukan yang sudah dipalsukan oleh pihak yang anti keluarga Rasulullah saww. Semoga akhirnya Ahok menjadi Muslim benaran hingga sempurnalah kepemimpinannya di Indonesia kelak paska 2 priode kepemimpinan Jokowi.








SETIAP MU’MIN ADALAH MUSLIM TETAPI TIDAK SETIAP MUSLIM ADALAH MU’MIN.


Benar sekali apa yang dijelaskan Gurubesar Universitas Brawijaya ini, hanya sedikit yang musti kita perbaiki saat beliau mengatakan bahwa Abu Thalib bukan Muslim. Ini masuk perangkap orang-orang yang anti keluarga Rasulullah dimana mereka memfitnah Abu Thalib agar orang ramai belakangan meyakini keturunan Imam Ali pantas dijauhkan dari kepemimpinan Islam. Dengan fitnah itu pulalah Yazid masih dianggap Muslim kendatipun membunuh Imam Hussein dan keluarga Rasulullah lainnya. 

Hadist made in Abu Hurairah yang menyatakan kisah meninggalnya Abu Talib tidak sempat mengucapkan dua kalimah shahadah walaupun Rasulullah menuntunnye adalah palsu. Hadis palsu ini jugalah yang membuat Ahok keliru mengatakan bahwa Abu Talib sendiri tidak dapat hidayah, apalagi saya (kata ahok saat menceritakan pengakuan sebahagian rakyat Belitung dan juga rakyat  Jakarta bahwa sebenarnya Ahoklah yang Islam tetapi belum mendapat hidayah Allah). Ketika Abu Thalib meninggal, Abu Hurairah jauh dari kota. Anak cucu Imam Ali dan Fathimah Az Zahara serta keluarga Rasul Allah saw tidak pernah meragukan keimanan Abu Thalib.  

Di dalam Mazhab Ahli Sunnah dapat dibilang satu­satunya hadis yang meriwayatkan ‘kekafiran’ Abu Thalib adalah Abu Hurairah. Tetapi bagaimana ia dapat menyaksikan peristiwa mening galnya Abu Thalib sedang ia pada waktu itu berada di kampung Daus, Yaman, dan baru muncul di Madinah dan masuk Islam sepuluh tahun kemu dian, bagaimana mungkin dia mengetahui proses kematian Abu Thalib, pelindung Rasulullah yang nomorwahid? (Insya Allah nanti akan saya paparkan bahwa yang terbanyak memalsukan Hadist Rasulullah adalah Abu Hurairah, kemudian Abdullah bin Umar bin Khattab dan sahabat keliru lainnya di priode kekuasaan Muawiyah, motor product Hadist palsu). Justeru itulah kalau kita berdebat tidak pernah selesai sebab kebanyakan kitab yang dikarang para ahli di support dengan hadist palsu.

Keberanian Muawiyah meracuni Imam Hassan via isterinya, Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al­Kindi, berpunca dari sebagian sahabat yang ambisius kepemimpinan berani menjauhkan pengganti yang telah ditunjuki Rasulullah di Ghadirkhum paska Haji Wada’, dari kedudukannya sebagai pemimpin. Mereka juga berani menghalangi Rasulullah untuk menulis wasiatnya saat beliau berada di katilnya (tragedi Hari Kemis). Sepakterjang mereka yang berani melawan Rasulullah dilanjutkan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan dan anaknya, Yazid bin Muawiyah (prototype Samiri), hingga berjuta Hadis dipalsukan untuk membenarkan mereka dan pengikutnya. Hal ini jugalah yang membuat muslim di zaman kita ini saling bermusuhan, sementara Muslim sejati pasti yang mengikuti tuntunan Allah swt dan RasulNya pasti berwawa san kemanusiaan (dengan non Muslim saja bersahabat konon pula sesama mos lem). 

Kalau kita tidak mampu memahami surah Al Maidah ayat 51 yang disalah gunakan agar Ahok tidak jadi Gubernur Jakarta dan juga difitnah Ahok menistakan Agama, carilah hadist murni Rasulullah, bukan hadist palsu. Kalau anda sukar mendapatkan Hadist murni disebabkan kemana anda berpaling kerap dihadang oleh hadist palsu disebabkan berjuta hadist palsu bertebaran dikalangan kita, carilah pengikut Ahlul bayt di zaman kita ini. Mereka memahami persis hadist murni Rasulullah dan bahkan memahami makna Qur-an yang tersirat dan juga ayat-ayat mutasyabihat, yang se ring dipelintirkan pengikut non Ahlulbayt. Mengapa mereka mampu? Sebab mereka mengikuti arahan pendamping Qur-an. Bagaimana caranya?  

Lihatlah secara bernegara, kenapa Republik Islam Iran  bersahabat dengan negara-negara Amerika Latin yang non Moslem sebaliknya Arab Saudi bermusuhan dengan Republik Islam Iran namun bersahabat karib dengan Zionis dan AS. Kenapa Ahmadinejad bersahabat dengan Hogo Charves? Sebaliknya lihat pula kenapa pe mimpin AS bermusuhan dengan Hugo Charves dan Ahmadinejad tetapi bersahabat baik dengan Raja-raja Arab? 


Semoga propessor tersebut menerima catatan saya ini dan semoga Allah memuliakan beliau di Indonesuia



SAYED AQIL ADALAH KETUA UMUM NU:





Sayid Aqil keliru saat mengatakan bahwa pemimpin yang dhalim itu mendapat pahala Imannya di Akhirat nanti. Ah ah ah. Sayed Aqil memang pintar dan banyak ilmunya tetapi di video ini dia terindikasi keluguannya. Hal ini disebabkan beliau terlalu percaya pada Ibnun Taimiyah yang keliru besar dalam beragama, sebaliknya Sayed Aqil terindikasi tidak mengenal Imam yang di utus sebagai Hujjatullah hingga siapapun yang mengikutinya pastilah tidak sesat selama-lamanya. Penguasa yang dhalim itu tidak ada yang beriman walaupun berbuih liurnya mengaku sebagai mu'min. Seharusntya Sayed Aqil dengan membaca suarah al Maidah ayat 44, 45 dan 47 saja sudah tau kalau penguasa dhalim itu tidak ada yang beriman benaran. Kalau mereka disebut muslim berarti muslim KTP, begitulah pembaca sekalian.

Alhamdulillah saya ini pengikut Ahlulbayt Rasulullah dimana kami berwawasan kemanusiaan dan memahami system Islam murni macam yang dibangun Rasulullah saww dan dilanjutkan oleh Imam Ali, dimana jauh sebelumnya diaplikasikan oleh Nabi Yusuf 'alaihissalam. Said Aqil mengaku bukan Syi'ah tetaƄpi pikirannya sangat Islami dibandingkan kiyai-kiyai gadongan lainnya macam buya Yahya yang keliru pikirannya 180 derajat.


Dewasa ini kita tidak tepat mengangkat isue non islam dan islam tetapi agar jelas persoalannya angkatlah persoalan Habil dan Qabil. Ahok termasuk manusia kutub Habil sedangkan buya Yahya termasuk manusia kutub Qabil. Maafkan saya terpaksa saya tegaskan agar buya gadongan tidak berbicara sembarangan di youtube


http://achehkarbala.blogspot.no/2012/02/maaf-belum-ada-judulnya-yang-tepat-ii.html





Hadis Sebagai Sumber Sejarah, hadis Shahih Belum Tentu Shahih



Sumber sejarah kita adalah Al­Qur’an, hadis dan naskah sejarah lainnya. Mengenai Al­Qur’an, tidak ada beda pendapat. Al­Qur’an hanya satu. Tetapi mengenai hadis kita harus memilih hadis shahih. Namun haruslah diingat bahwa Hadis yang ‘shahih’ belum tentu shahih bila dihubungkan dengan sejarah atau ayat Al­Qur’an. Misalnya hadis Abu Hurairah mengenai mizwad, kantong mukjizat yang diikatkan di pinggangnya dan memberi makan pasukan­pasukan dan dirinya sendiri selama dua puluh tahun. Atau hadis Abu Hurairah tentang Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah SWT dengan panjang enam puluh hasta, yang akan dibicarakan di bagian lain pengantar ini. Atau hadis yang bertentangan satu dengan yang lain, seperti, riwayat Aisyah 5 Lihat Bab 9 ‘Apendiks’, sub bab ‘Sikap Muslim Terhadap Sahabat’.3 bahawa Rasul Allah wafat sambil bersandar di dada Aisyah dan hadis Ummu Salamah bahwa Rasul meninggal tatkala sedang bersandar di dada Ali bin Abi Thalib. 

Di kemudian hari muncul hadis­hadis palsu yang jumlahnya sangat mencengangkan seperti ‘sinyale men’ Rasul Allah saww: ‘Sejumlah besar hadis palsu akan diceritakan atas namaku sesudah aku wa fat, dan barangsiapa berbicara bohong terhadapku, ia akan dimasukkan ke dalam neraka’.  H. Fuad Hashem 7 memberi gambaran menarik “..Khalifah Abu Bakar, menurut sejarawan al­ Dzahabi, dilaporkan membakar kumpulan lima ratus hadis, hanya sehari setelah ia menyerahkannya kepada putrinya Aisyah. ‘Saya menulis menurut tanggapan saya,’ kata Abu Bakar, namun bisa jadi ada hal yang tidak persis dengan yang diutamakan Nabi. Kalau saja Abu Bakar hidup sampai dua ratus tahun kemudian dan menyaksikan betapa beraninya orang mengadakan jutaan hadis yang kiranya jauh dari ‘persis’, mungkin sekali ia menangis, seperti yang dilakukannya banyak kali.

Penggantinya khalifah Umar, juga menolak menulis serupa kerana ini tidak ada presedennya. Dide pan jemaah Muslim, ia berkata, ‘Saya sedang menimbang menuliskan hadis Nabi,’ katanya. ‘Tetapi saya ragu kerana teringat kaum Ahlu’l Kitab yang mendului kaum Muslim. Mereka menuliskan kitab selain wahyu; akibatnya, mereka akhirnya malahan meninggalkan kitab sucinya dan berpegang pada kumpulan hadis itu saja’. 

Semua ini menunda pencatatan keterangan mengenai kehidupan awal Islam. “Tidak kita temui ulama memberi lebih banyak kepalsuan dari yang mereka lakukan atas hadis,” kata Muslim, pengumpul hadis tersohor. Banyak duri khurafat yang kalau dicabut, akan mengeluarkan banyak darah dan mem bikin sekujur tubuh merasa demam; sudah terlalu dalam, terlalu lama tertanam. Di zaman Dinasti Abbasiyah, semua keutamaan ‘Umayyah dibilas... Peranan Abbas, paman Rasul, dibenahi; ia, selagi kafir, dijadikan “pahlawan” dengan mengawal Muhammad dalam bai’at Aqabah, atau ia sebenarnya telah lama masuk Islam dan dipaksa oleh kaum Quraisy untuk ikut berperang melawan Islam dalam Perang Badr. Semua untuk memberikan legitimasi atas tahta.

Tetapi kedua dinasti bermusuhan itu sepakat mengenai satu hal: mendiskreditkan para pengikut Ali dan berkepentingan agar Abu Thalib mati kafir. Ia ayah Ali dan dengan begitu barangkali anak cucunya kurang berhak atas jabatan pimpinan umat Islam yang diperebutkan. Penulis zaman itu pun sedikit banyak harus memperhatikan pesanan dari istana, kalau masih mau menulis lagi. Dan mereka terpaksa menulis apa yang mereka tulis. Dua ratus tahun sepeninggal Rasul, jumlah hadis telah mencapai jutaan dan para ulama yang memburu dengan kuda dari Spanyol sampai India mulai heran kerana persediaan hadis sudah jauh melampaui permintaan. 

Di situ sudah ditampung sabda Yesus, ungkapan Yunani, pepatah Persia dan aneka sisipan dan buatan yang sukar ditelusuri asal­muasainya. Barulah ulama memikirkan cara mengontrol: memeriksa rang kaian penutur hadis ini (isnad) dengan berbagai metode untuk menguji kebenarannya. 

Bukhari dan Muslim serta beberapa lainnya menyortir secara ketat semua itu, lalu menggolong kannya menurut tingkat dan mutu kebenarannya; tugas yang hampir mustahil dilakukan manusia. Ba gaimanapun, kerusakan telah terjadi. Sepanjang menyangkut catatan mengenai biografi Muhammad, mungkin sedikit saja motif jahat untuk mengotori sisa hidup dan perjuangannya. Juga kita dapat mencek dan menimbang lalu menyimpulkan ‘motif’ kepentingan politik dari hadis mengena selangkah atau sepatah kata Nabi, walaupun ini bukan mudah; sebab orang dulu pun pandai seperti kita untuk membuat motif itu mulus, Juput dari utikan dan dengan mudahnya menjerat kita. Motif itu hampir tak terbilang jumlahnya; ekonomi, kehormatan, politik atau sekadar kesadaran bahwa nama mereka masih akan dicatat dan disebut sampai detik­detik menjelang kiamatnya alam jagad ini, sebab Islam agama universal. Maka siapa pengikut pertama, siapa yang menjabat tangan Muhammad lebih dulu dalam ikrar Aqabah, siapa yang tidak hijrah, semua diperebutkan oleh anak keturunan, murid atau malahan tetangga mereka. Ahmad Amin mengutip Ibnu Urafah, mengatakan bahwa ‘kebanyakan hadis yang mengutamakan para sahabat dan mutu sahabat Rasul, dipalsukan selama periode Dinasti ‘Umayyah.’ 

Demikian H. Fuad Hashem. Hati­hati Terhadap 700 Pembuat Hadis Aspal 6 Al­Bukhari, jilid 1 hlm. 38, jilid 2, hlm. 102, jilid 4, hlm. 207, jilid 8, hlm. 54; Muslim, jilid 8, hlm. 229; Abu Dawud, jilid 3, hlm. 319­320; at­Tirmidzi, jilid 4, hlm. 524, jilid 5, hlm. 3, 35­36, 40, 199, 634; Ibnu Majah, jilid 1, hlm. 13­15. 7 H. Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasullulah, Penerbit Mizan, 1989, Bandung, hlm. 24­26. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 14 Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan al­Bukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis.8 Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). 9 Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis.10 Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis.11 Bukhari (194­255 H/810­869 M), Muslim (204­261 H/819­875 M), Tirmidzi (209­279 H/824­892 M), Nasa’i (214­303 H/829­915 M), Abu Dawud (203­275 H/818­888 M) dan Ibnu Majah (209­295 H/824­908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadis­hadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadis­hadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ash­shihah as­sittah, dengan judul kitab masing­masing menurut nama mereka; 


Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (Sunan) Abu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i. 12 Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. Al­Amini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong ­yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni­ yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam. Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beribu­ribu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” 13 , yang shalat, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. 

Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. 14 Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. 15 “Muqatil bin Sulaiman al­ Bakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong, dajjal dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terang­terangan kepada khalifah Abu Ja’far al­Manshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untuk­mu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah al­Mahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. Al­ Mahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”. Abu Bakar al­ Khatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi al­Hindi, Kanzu’l­’Ummal, jilid 5, hlm. 16 Syamsuddin adz­Dzahabi, Mizan al­I’tidal, jilid 3, hlm. 196; al­Hafizh lbnu Hajar al­’Asqalani, Tahdzib at­Tahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin as­Suyuthi, al­LaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122.” Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat­sifat dan cara berbicara para sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Aisyah dan lain­lain. 

Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang­ orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadis­hadis ini disusun dengan rapih, kadang­kadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis­hadis tersebut.16 8 Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; Al­Irsyad as­Sari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143. 9 Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; al­Muntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat al­Ayan, jilid 5, hlm. 194 10 Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1­Huffazh, jilid 2, hlm. 154; al­Muntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat al­A’yan jilid 2, hlm. 404. 11 Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419­420; Thabaqat a1­Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib at­Tahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat al­A’yan, jilid 1, hlm. 64. 12 Menurut metode pengelompokan, hadits­hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id. 13 Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat. 14 AI­Amini, al­Ghadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209­375. 15 AI­Amini, al­Ghadir, jilid 5, hlm. 266. 16 Contoh­contoh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim ar­Razi, Ahlu’l Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Pelurusan); Syamsuddin Az­Dzahabi, Mizan al­I’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al­’Asqalani, Tahdzib at­Tahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan al­Mizan (Kata­kata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir al­Bidayah wa’n­Nihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin As­Suyuthi, al­La’a­li’ul Mashnu’ah (Mutiara­mutiara 



Demikian pula, misalnya hadis­hadis yang menggunakan kata­kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana kata­kata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata­kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat­sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.17 Juga, hadis­hadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang­bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya. 

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Banu Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, al­Qur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. 18 Atau hadis­hadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut Al­Qur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’ menjadi khalifah dibikin dari nur. Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan. Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300. Abu Ali Ahmad al­Jubari 10.000 Ahmad bin Muhammad al­Qays 3.000 Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000 Shalih bin Muhammad al­Qairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain. Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hati­hati. Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. 

Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syi’ah. Dan ia juga memasukkan 150 19 sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun al­Rasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syi’ah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti. Hati­hati Terhadap 150 Sahabat Fiktif Suatu rangkaian isnad yang lengkap, dengan penyalur­penyalur yang indentitas orangnya tidak dapat dibuktikan sebagai cacat, belum lagi menjamin kebenaran suatu berita. Hal ini disebabkan adanya sahabat­sahabat fiktif sehingga memerlukan penelitian yang lebih cermat terhadap para sahabat. Murtadha al­’Askari, misalnya, telah berhasil menemukan 150 nama sahabat Nabi yang fiktif, yang tidak pernah ada dalam kehidupan nyata, yang telah dimasukkan oleh penulis sejarah yang bernama Saif bin Umar, pencipta pelakon fiktif Abdullah bin Saba’, sebagai saksi­saksi pelapor. 

Penulis sejarah ini telah memasukkan berbagai kota dan sungai yang kenyataannya tidak pernah ada. 20 Di bagian lain banyak ulama berpendapat bahwa hadis yang disampaikan seorang pembohong harus ditolak tetapi laporan sejarah yang ditulisnya harus diterima. Hal ini, misalnya terjadi pada buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat al­A’yan wa Anba Abna az­Zaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anak­anak Zaman). Dan masih banyak lagi. 17 Lihat AI­Muhibb Thabari, Riyadh an­Nadhirah, jilid 1, hlm. 30. 18 Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul. 19 Seratus lima puluh. 20 Murtadha al­’Askari, Khamsun wa Mi’ah Shahabi Mukhtalaq, Beirut, 1968. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 16 hadis dari Saif bin Umar yang menulis buku ar­Ridda dan al­Futuh yang telah ditolak oleh banyak ulama kerana dianggap pembohong tetapi ceritanya sendiri tentang tokoh fiktif Abdullah bin Saba’ ­suatu pribadi yang tidak dikenal oleh semua penulis lain­ selama ini diterima sebagai fakta sejarah. Tetapi menurut hemat saya, kedua laporannya, hadis maupun bukan hadis harus dipandang dengan kritis. Kalau tentang Rasul Allah saw saja ia mau berbohong apa lagi tentang orang lain. 

Bukhari Tidak Suka Imam Az­Zaki Al­Askari? Kesulitan lain adalah kita kekurangan berita langsung dari sumber Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya bila berhadapan dengan peristiwa di mana mereka juga terlibat, seperti bagaimana suasana dan perasaan anak­anak Fathimah tatkala rumah Fathimah diserbu oleh pasukan Abu Bakar, 21 atau apa kegiatan Ali selama hampir 25 tahun 22 kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Bagaimana hukum fiqih berkembang dalam keluarga mereka? Bukankah Ali adalah pintu ilmu menurut hadis Rasul? Sebabnya adalah kurangnya perhatian sejarahwan Sunni terhadap sumber riwayat dari Ali, Fathimah, Hasan, Husain dan anak cucunya. Bukhari misalnya tidak mau mewawancarai Imam az­Zaki al­’Askari (yang sezaman dengannya, 232­260 H/840­870 M), cucu Rasul Allah saw dan sedikit pun juga tidak berhujah dengan Imam Ja’far Shidiq, Imam al­Kazhim, Imam ar­Ridha, Imam al­Jawad dan tidak dari al­Hasan bin al­ Hasan, Zaid bin Ali bin al­Husain, Yahya bin Zaid, an­Nafsu az­Zakiyah, ‘Ibrahim bin Abdullah, Muhammad bin Qasim bin Ali (sezaman dengan Bukhari) dan tidak dari keturunan ahlu’l­bait mana pun. Tetapi Bukhari misalnya meriwayatkan dari seribu dua ratus kaum Khawarij yang memusuhi ahlu’l­bait, dan tokoh­tokoh yang terkenal jahil terhadap keluarga Rasul Allah saw.23

Membuat Hadis Palsu, Mu’awiyah Mengorganisir Hadis Palsu Di masa pernerintahan Banu ‘Umayyah selama 92 tahun, 163 telah dibuat banyak sekali hadis palsu yang direncanakan untuk mengucilkan Ali dan membesarkan ketiga khalifah Rasyidun yang lain, atas perintah Mu’awiyah, raja pertama dalam sejarah Islam. Para gubernur diwajibkan untuk mengkhotbahkan hadis­hadis tersebut di seluruh masjid­masjid dari ‘ufuk Timur ke ufuk Barat’. Dengan demikian biarpun hadis ini jelas shahih, karena rangkaian isnadnya lengkap dan nama­ nama penyalur dapat dipercaya, ‘penyakit’ masih ada, yaitu yang bersumber dari kalangan sahabat sendiri atau tabi’in sendiri.Khotbah­khotbah itu, begitu besar pengaruhnya sehingga pernah terjadi seorang bapak mengadu kepada penguasa karena istrinya telah menghinanya dengan menamakannya Ali. 164,160 Bacalah Abul­Faraj al­Ishfahani, al­Aghani, jilid 16, hlm. 2­11; Ibnu Qutaibah, ‘Uyun al­Akhbar, jilid 1, hlm. 147; Thabari, Tarikh, jilid 6, hlm. 141­156; Ibnu Atsir, al­Kamil, jilid 3, hlm. 202­208; al­Hakim, Mustadrak, jilid 12, hlm. 468; Ibnu ‘Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 84, jilid 6, hlm. 459; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 8, hlm. 49­55. 161 Mas’udi, Muruj adz­Dzahab, jilid 2, hlm. 69; Baihaqi, Kitab al­Mahasin wa al­Musawi, jilid 1, hlm. 39. 162 Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahjul­Balaghah, jilid 4, hlm. 58­59. 163 Kecuali di zaman pemerintahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang 2 setengah tahun.

Hadis­hadis ini dapat disebut ‘Hadis Penguasa’ karena diorganisir oleh pelaksana pemerintahan demi mempertahankan kedudukannya dan bersumber dari para sahabat dan tabi’in. Untuk memahami timbulnya hadis­hadis palsu jenis ini, perlu kita memahami sifat­sifat jahiliah yang masih tersisa di zaman sahabat. Sifat­sifat jahiliah ini tidak hanya mengakibatkan pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan terhadap jenazah dengan mengarak kepala­kepala jenazah dijalan­jalan, perampokan, perbu dakan terhadap wanita­wanita, pendongkelan mata yang dilakukan terhadap Syi’ah Ali serta pelangga ran hak­hak azasi yang begitu dilindungi oleh Islam, tetapi juga pembuatan hadis palsu yang teren cana. Abu Ja’far Al­Iskafi menceritakan: Mu’awiyah memerintahkan para sahabat dan tabi’in untuk membuat riwayat yang memburuk­burukkan Ali bin Abi Thalib, menyerangnya dan memakzulkan nya, di antaranya Abu Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, Mughirah bin Syu’bah dan di antara tabi’in, Urwah bin Zubair.’ 165

‘Urwah bin Zubair Buat Hadis Palsu: Ali Masuk Neraka Marilah kita lihat beberapa contoh: Az­Zuhri meriwayatkan dari ‘Urwah bin Zubair yang menyampaikan kepadanya: Aisyah menyampaikan kepadaku dengan kata­kata: ‘Aku bersama Rasul Allah tatkala muncul Abbas dan Ali bin Abi Thalib, dan Rasul bersabda: ‘Ya Aisyah, sesungguhnya kedua orang itu akan mati di luar millatku atau di luar agamaku’. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazaq dari Ma’mar yang berkata: ‘Zuhri mempunyai dua hadis yang berasal dari ‘Urwah dari Aisyah tentang Ali; dan pada suatu hari aku bertanya kepadanya tentang mereka berdua dan ia berkata: ‘Apa yang engkau akan lakukan dengan mereka berdua dan kedua hadis tentang mereka berdua! Allah mengetahui keduanya. Aku sendiri mendahulukan. mereka
berdua di antara Banu Hasyim’. Selanjutnya ia berkata: ‘Tentang hadis pertama, telah kami beritahu kan. Dan hadis kedua berasal dari ‘Urwah yang menyatakan bahwa hadis itu didengarnya dari Aisyah. Aisyah berkata: ‘Aku. bersama Nabi saw tatkala muncul Abbas dan Ali kemudian Rasul bersabda: 

‘Ya Aisyah, bila menyenangkan hatimu, untuk melihat kepada dua orang lelaki ahli neraka, maka lihatlah kepada kedua orang yang akan muncul’ dan aku melihat, tiba­tiba muncul Abbas dan Ali bin Abi Thalib’. ‘Amr bin ‘Ash Buat Hadis: Ali Dengan Fathimah merupakanPerkawinan Politik Sedang ‘Amr bin ‘Ash yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka yang berasal dari ‘Amr bin ‘Ash yang berkata: ‘Aku mendengar Rasul Allah saw bersabda: ‘Sesungguhnya keluarga Abi Thalib, bukan wali­waliku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang­orang mu’minin yang shalih.’

Abu Hurairah Buat Hadis: Agama Diamanatkan Pada Mu’awiyah, Ali Buat Bid’ah Contoh lain adalah Abu Hurairah. Sesudah Utsman meninggal, Abu Hurairah membaiat Mu’awiyah. Kepri badiannya yang piknikus itu dapat dilukiskan dengan kata­katanya sendiri: ‘Sesungguhnya semarak makan di meja Mu’awiyah, dan sungguh sempurna shalat di belakang Ali bin Abi Thalib’. Dan ia pun memilih makan di meja Mu’awiyah. Ia membaiat Mu’awiyah sebagai khalifahnya. Lalu hadis­hadis pun mulai bermunculan. Yang pertama berbunyi: ‘Aku mendengar Rasul Allah bersabda, ‘Se sungguhnya Allah mengamanatkan wahyu­Nya kepada tiga oknum, yaitu saya, Jibril serta Mu’awi yah.’ 166 Karena senangnya akan makanan kesukaan Mu’awiyah maka orang menamakannya Syaikh alMudhirah. Seluruh hadisnya disampaikan di zaman Mu’awiyah. 164 Dengan demikian dapatlah dibayangkan bahwa hukum fiqih yang berkembang di lembaga­lembaga pemerintahan dan masyarakat didominir oleh keputusan

keputusan hukum ‘Umar, Abu Bakar dan ‘Utsman. Dan sama sekali tidak memberi tempat kepada pikiran­pikiran ‘Ali. Buah pikiran ‘Ali hanya berkembang dan diikuti oleh keluarga dan pengikut­pengikutnya. Sebagai ilustrasi dapat diikuti dialog antara gubernur Hajjaj bin Yusuf dan kadinya. Hajjaj bertanya kepada Sya’bi tentang warisan seorang (yang tidak punya anak) kepada ibu, saudara perempuan dan kakeknya. Hajjaj: ‘Bagaimana pendapat Amiru’l­mu’minin ‘Utsman? Sya’bi: ‘Tiap orang 1/3 bagian!’. Hajjaj: ‘Bagaimana pendapat ‘Ali? Sya’bi: ‘Saudara perempuan 3/6, 2/6 untuk ibu dan 1/6 bagian untuk kakek!’ Hajjaj memegang­megang hidungnya, ‘Yang pasti, kita tidak boleh mengikuti putusan ‘Ali’. Ia lalu menyuruh hakim memutuskan sesuai dengan pendapat ‘Utsman. Untuk mengetahui perbedaan­perbedaan ini, bacalah al­Imam ‘Abdul Husain Syarafuddin al­Musawi, Nash wa’1­Ijtihad. 165 Ibn Abil­ Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 63. 166 Hadis Abu Hurairah ini sangat kuat; diriwayatkan oleh lbnu Katsir melalui dua jalur, Ibnu ‘Adi melalui dua jalur; Muhammad bin ‘Aid melalui lima jalur, Muhammad bin ‘Abdu as­Samarqandi melalui enam jalur, Muhammad bin Mubarrak ash­Shuri metalui tujuh jalur, Khatib Baghdadi melalui sembilan jalur, semuanya berasal dari Abu Hurairah. Lihat pula Abu Hurairah, oleh Syarafuddin al­Mosawi, Beirut, 1977, hlm. 38. 

Mudhirah berasal dari makanan yang disukai Mu’awiyah yang terbuat dari daging dimasak dengan susu. Syaikh Muhammad ‘Abduh telah membuat sindiran tatkala ia menulis tentang Mudhirah: ‘Dan Mu’awiyah mengangkat dirinya menjadi khalifah setelah pembaiatan Ali bin Abi Thalib dan tiada yang mengakuinya selama Ali masih hidup kecuali pemburu kelezatan dan syahwat. Menikmati makanan Mu’awiyah akan menyeretnya mengakui Mu’awiyah sebagai khalifah, sedang Ali masih hidup dan telah dibaiat menurut syariat. 167 Abu Hurairah sekali menyaksikan Aisyah binti Thalhah yang terkenal cantlk luar biasa (al­jamal al­fa’iq), maka ia berkata: “Mahasuci Allah! Alangkah cantiknya. Demi Allah aku tidak (pernah) menyaksikan wajah secantik wajahmu, kecuali wajah Mu’awiyah (tatkala berada) di atas mimbar Rasul Allah!. 168 Tatkala Mu’awiyah mendengar berita meninggalnya Ali bin Abi Thalib, ia demikian gembira, sehingga ia shalat dhuha enam raka’at. Kemudian Banu ‘Umayyah memerintahkan mengeluarkan hadis tentang kemuliaan shalat dhuha enam raka’at meskipun shalat demikian tidak pernah dilakukan oleh Nabi, tidak oleh Abu Bakar, tidak oleh Umar dan tidak juga oleh Ibnu Umar. Abu Hurairah lalu membuat hadis yang berbunyi: ‘Sahabatku mewasiatkan kepadaku agar tidak kutinggalkan tiga hal sampai aku mati. Puasa tiga hari tiap bulan, dan shalat dhuha dan tidur sesudah shalat witir.’ 169 Dan A’masy meriwayatkan: ‘Tatkala Abu Hurairah sampai ke Iraq bersama Mu’awiyah pada ‘Tahun Persatuan’ (am jamaah, tahun 41 H/661 M), ia telah pergi ke Masjid al­Kufah. Dan tatkala ia melihat banyak orang menyambutnya ia lalu duduk bersila, menepuk berkali­kali kepalanya yang botak, kemudian berkata: ‘Hai penduduk Irak! Apakah kamu menganggap aku (berbohong) terhadap Rasul Allah? Biarlah aku dibakar di neraka (bila demikian)! 

Demi Allah aku telah mendengar Rasul Allah bersabda: ‘Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai tempat suci. Dan sesungguhnya tempatku yang Suci (Haram) adalah Madinah yaitu antara bukit ‘Air dan Tsaur. Dan barang siapa melakukan bid’ah di dalamnya maka terlaknatlah dia oleh Allah dan para malaikat serta seluruh manusia. Dan aku bersaksi bahwa Ali telah melakukan bid’ah di dalamnya!’ Dan tatkala sampai berita ini kepada Mu’awiyah, ia lalu membenarkan Abu Hurairah, menyambutnya dengan hormat dan mengangkatnya menjadi gubernur Madinah’. 170 Begitu gembira ia menjadi gubernur Madinah sehingga diriwayatkan dalam khotbah pertamanya sebagai gubernur ia telah berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan agama ini tegak teguh dan menjadikan Abu Hurairah sebagai imam’. 171 Sufyan ats­Tsauri meriwayatkan dari Abdurrahman bin al­Qasim dari Umar bin ‘Abdul­Ghafffar, bahwa suatu ketika Abu Hurairah datangke Kufah bersama rombongan Mu’awiyah. Ia duduk dikerumuni oleh jemaah. Lalu datang seorang pemuda Kufah yang langsung duduk di dekatnya dan berkata: ‘Ya Abu Hurairah, apakah Anda mendengar Rasul Allah saw bersabda mengenai Ali bin Abi Thalib: ‘Allahumma, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya? Maka Abu Hurairah menjawab: ‘Allahumma, benar!’. Dan pemuda itu melanjutkan: ‘Maka aku bersaksi dengan nama Allah, Anda telah mencintai musuh­Nya dan telah memusuhi wali­Nya’. Kemudian ia bangkit dan pergi. Samurah bin Jundab ­ Jual Hadis Pada Muawiyah Contoh lain adalah hadis oleh Samurah bin Jundab. 

Diriwayatkan di bagian lain bahwa Mu’awiyah mengadakan tawar menawar dengan Samurah bin Jundab. Mu’awiyah menawar 100.000 dirham bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, yaitu ayat: ‘Dan di antara manusia ada orang yang menakjubkan kau. Karena perkataannya tentang kehidupan di dunia ini. Dan yang bersaksi kepada Allah atas kandungan hatinya. Padahal ialah pembangkang yang paling keras. Dan bila ia berbalik, ia berusaha menebarkan kerusakan dimuka bumi. Dan membinasakan tanam­tanaman dan ternak. Sedang Allah tiada suka kerusakan’.172 Dan ayat kedua berkenaan Ibnu Muljan’ 173 : ‘Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan jiwanya untuk mencari keridaan Allah. Allah Maha Penyantun terhadap hamba­hamba­Nya.174 167 Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah, Abu Hurairah, Darul Ma’arif, Mesir, hlm. 57. 168 Ibnu ‘Abd Rabbih, Iqdal­Farid, jilid 6, hlm. 101. 169 Bukhari, Muslim; lihat juga Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah, hlm. 236 170 Ibn Abil­Hadid, Syarh­Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 67 171 Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 69. 172 Al­Qur’an, al­Baqarah (II), 204­205. 173 Pembunuh Imam Ali. 174 Al­Qur’an, al­Baqarah (11), 207. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 50 Dan Samurah bin Jundab tidak menerima. Mu’awiyah menaikkan 200.000 dirham. Ia belum mau. Dan Mu’awiyah menaikkan 300.000 dirham dan ia masih menolak. Mu’awiyah naikkan 400.000 dirham baru diterima Samurah. 175 Samurah bin Jundab pernah sebentar jadi gubernur di Bashrah dan ia membunuh Syi’ah Ali sebanyak 8.000 orang atas petunjuk Mu’awiyah. Thabari menceritakan dari jalur Muhammad bin Salim yang berkata: ‘Aku bertanya kepada Anas bin Sirin: ‘Apakah Samurah pernah membunuh seseorang?’. Anas menjawab: ‘Apakah kau tahu berapajumlah orang yang dibunuh Samurah bin Jundab?’ Ia mengganti Ziyad di Bashrah, kemudian Kufah dan ia telah membunuh 8.000 orang’. 

Suatu ketika Ziyad bertanya kepadanya: ‘Tidakkah engkau takut telah membunuh orang secara sewenang­wenang?’ Samurah menjawab: ‘Tidak, andaikata yang kubunuh seperti mereka, aku tidak takut!’ Abu Siwar al­’Adwi berkata: ‘Samurah telah membunuh dari kaumku dalam satu pagi hari 47 pemuka agama’. Contoh lain lagi adalah Abdullah bin Umar. Ibnu Umar: Ali Tidak Masuk Khalifah Rasyidun Abdullah bin Umar, yang sering disebut Ibnu Umar, anak khalifah Umar bin Khaththab, tidak mau membaiat Ali, tapi ia membaiat Mu’awiyah setelah ‘Tahun Persatuan’, Yazid dan ‘Abdul Malik. Ia juga shalat di belakang Hajjaj bin Yusuf, gubernur ‘Abdul Malik. Diceritakan tatkala ia mengulurkan tangan untuk membaiat Hajaj, Hajjaj bin Yusuf memberikan kakinya. Ibnu Umar adalah pembuat hadis terbanyak sesudah Abu Hurairah. Ummu’l mu’minin Aisyah nomor empat. 176 Ibnu Umar juga dituduh menghidupkan ijtihad ayahnya. Beberapa hadisnya mengenai kuutamaan (fadha’il) akan dikemukakan disini: Ibnu Umar berkata: ‘Kami tidak memilih­milih antara sesame kami dizaman Rasul saw dan kami memilih Abu Bakar, kemudian Unar bin Khaththab kemudian Utsman bin ‘Affan ra’.177 Dan di bagian lain 178 : ‘Kami di zaman Nabi saw tidak mendahulukan Abu Bakar dengan siapapun, kemudian Umar kemudian Utsman, kemudian kami meninggalkan sahabat Nabi yang lain, kami tidak saling mengutamakan di antara mereka’ dan lain­lain. 

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Thabrani dari Ibnu Umar: ‘Kami berbicara pada saat Rasul Allah saw masih hidup: ‘Yang paling utama di antara manusia adalah Nabi saw, setelah beliau Abu Bakar, kemudian Umar dan kemudian Utsman. Rasul Allah mendengarnya dan beliau tidak mengingkarinya. 179 Sunni menolak hadis ini, karena Sunni juga mengakui Ali sebagai khalifah lurus yang keempat. Orang hanya mengatakan bahwa Ibnu Umar tidak menyebut Ali karena ia tidak membaiat Ali. Ibnu Umar baru berumur 15 tahun waktu pecah perang Khandaq. Oleh karena itu Ali bin al­Ja’d misalnya mengatakan: Lihat anak itu, mengurus istri saja tidak bisa, lalu dia berani mengatakan ‘Kami mengutamakan..!180 Maka bila ada hadis yang berpasangan, misalnya, yang satu untuk Ali dan yang satu lagi untuk ‘Abu Bakar atau Umar atau Utsman maka telitilah. Lihatlah konteks keluarnya hadis itu. Misalnya ada hadis ‘Rasul menutup semua pintu kecuali pintu (bab) untuk Ali. Tapi ada pula hadis serupa ‘Rasul menutup semua pintu kecuali pintu (Khaukhah) untuk Abu Bakar. Atau hadis yang diucapkan Rasul pada saat akan wafat: ‘Bawalah kemari tinta dan kertas agar kutuliskan bagimu surat agar kamu tidak akan pernah tersesat sepeninggalku’ 181 . Hadis di atas ada pasangannya yang dimuat dalam shahih Bukhari, Muslim dan shahih­shahih lain yang diriwayatkan Aisyah bahwa Rasul saw pada saat sakit berkata kepadanya: ‘Panggil ayahmu, aku akan menulis untuk Abu Bakar sebuah surat, karena aku takut seseorang akan mempertanyakan atau menginginkan (kekhalifahan), karena Allah dan kaum mu’minin menolakinya, kecuali Abu Bakar’. 182 175

Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 73. 176 Abu Hurairah menyampaikan 5374 hadis, Ibnu ‘Umar 2630, Anas bin Malik 2286 dan ‘A’isyah 2210. 177 Shahih Bukhari dalam Kitab al­Manaqib, bab Keutamaan Abu Bakar sesudah Nabi, dari jalur ‘Abdullah bin ‘Umar, jilid 5, hlm. 243. 178 Shahih Bukhari dalam Kitab al­Manaqib, bab Keutamaan ‘Utsman, dari jalurkeputusan hukum ‘Umar, Abu Bakar dan ‘Utsman. Dan sama sekali tidak memberi tempat kepada pikiran­pikiran ‘Ali. Buah pikiran ‘Ali hanya berkembang dan diikuti oleh keluarga dan pengikut­pengikutnya. Sebagai ilustrasi dapat diikuti dialog antara gubernur Hajjaj bin Yusuf dan kadinya. Hajjaj bertanya kepada Sya’bi tentang warisan seorang (yang tidak punya anak) kepada ibu, saudara perempuan dan kakeknya. Hajjaj: ‘Bagaimana pendapat Amiru’l­mu’minin ‘Utsman? Sya’bi: ‘Tiap orang 1/3 bagian!’. Hajjaj: ‘Bagaimana pendapat ‘Ali? Sya’bi: ‘Saudara perempuan 3/6, 2/6 untuk ibu dan 1/6 bagian untuk kakek!’ Hajjaj memegang­megang hidungnya, ‘Yang pasti, kita tidak boleh mengikuti putusan ‘Ali’. Ia lalu menyuruh hakim memutuskan sesuai dengan pendapat ‘Utsman. Untuk mengetahui perbedaan­perbedaan ini, bacalah al­Imam ‘Abdul Husain Syarafuddin al­Musawi, Nash wa’1­Ijtihad. 165 Ibn Abil­ Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 63. 166 Hadis Abu Hurairah ini sangat kuat; diriwayatkan oleh lbnu Katsir melalui dua jalur, Ibnu ‘Adi melalui dua jalur; Muhammad bin ‘Aid melalui lima jalur, Muhammad bin ‘Abdu as­Samarqandi melalui enam jalur, Muhammad bin Mubarrak ash­Shuri metalui tujuh jalur, Khatib Baghdadi melalui sembilan jalur, semuanya berasal dari Abu Hurairah. 

Lihat pula Abu Hurairah, oleh Syarafuddin al­Mosawi, Beirut, 1977, hlm. 38. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 49 Mudhirah berasal dari makanan yang disukai Mu’awiyah yang terbuat dari daging dimasak dengan susu. Syaikh Muhammad ‘Abduh telah membuat sindiran tatkala ia menulis tentang Mudhirah: ‘Dan Mu’awiyah mengangkat dirinya menjadi khalifah setelah pembaiatan Ali bin Abi Thalib dan tiada yang mengakuinya selama Ali masih hidup kecuali pemburu kelezatan dan syahwat. Menikmati makanan Mu’awiyah akan menyeretnya mengakui Mu’awiyah sebagai khalifah, sedang Ali masih hidup dan telah dibaiat menurut syariat. 167 Abu Hurairah sekali menyaksikan Aisyah binti Thalhah yang terkenal cantlk luar biasa (al­jamal al­fa’iq), maka ia berkata: “Mahasuci Allah! Alangkah cantiknya. Demi Allah aku tidak (pernah) menyaksikan wajah secantik wajahmu, kecuali wajah Mu’awiyah (tatkala berada) di atas mimbar Rasul Allah!. 168 Tatkala Mu’awiyah mendengar berita meninggalnya Ali bin Abi Thalib, ia demikian gembira, sehingga ia shalat dhuha enam raka’at. Kemudian Banu ‘Umayyah memerintahkan mengeluarkan hadis tentang kemuliaan shalat dhuha enam raka’at meskipun shalat demikian tidak pernah dilakukan oleh Nabi, tidak oleh Abu Bakar, tidak oleh Umar dan tidak juga oleh Ibnu Umar. Abu Hurairah lalu membuat hadis yang berbunyi: ‘Sahabatku mewasiatkan kepadaku agar tidak kutinggalkan tiga hal sampai aku mati. Puasa tiga hari tiap bulan, dan shalat dhuha dan tidur sesudah shalat witir.’ 169 Dan A’masy meriwayatkan: ‘Tatkala Abu Hurairah sampai ke Iraq bersama Mu’awiyah pada ‘Tahun Persatuan’ (am jamaah, tahun 41 H/661 M), ia telah pergi ke Masjid al­Kufah. 

Dan tatkala ia melihat banyak orang menyambutnya ia lalu duduk bersila, menepuk berkali­kali kepalanya yang botak, kemudian berkata: ‘Hai penduduk Irak! Apakah kamu menganggap aku (berbohong) terhadap Rasul Allah? Biarlah aku dibakar di neraka (bila demikian)! Demi Allah aku telah mendengar Rasul Allah bersabda: ‘Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai tempat suci. Dan sesungguhnya tempatku yang Suci (Haram) adalah Madinah yaitu antara bukit ‘Air dan Tsaur. Dan barang siapa melakukan bid’ah di dalamnya maka terlaknatlah dia oleh Allah dan para malaikat serta seluruh manusia. Dan aku bersaksi bahwa Ali telah melakukan bid’ah di dalamnya!’ Dan tatkala sampai berita ini kepada Mu’awiyah, ia lalu membenarkan Abu Hurairah, menyambutnya dengan hormat dan mengangkatnya menjadi gubernur Madinah’. 170 Begitu gembira ia menjadi gubernur Madinah sehingga diriwayatkan dalam khotbah pertamanya sebagai gubernur ia telah berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan agama ini tegak teguh dan menjadikan Abu Hurairah sebagai imam’. 171 Sufyan ats­Tsauri meriwayatkan dari Abdurrahman bin al­Qasim dari Umar bin ‘Abdul­Ghafffar, bahwa suatu ketika Abu Hurairah datangke Kufah bersama rombongan Mu’awiyah. Ia duduk dikerumuni oleh jemaah. Lalu datang seorang pemuda Kufah yang langsung duduk di dekatnya dan berkata: ‘Ya Abu Hurairah, apakah Anda mendengar Rasul Allah saw bersabda mengenai Ali bin Abi Thalib: ‘Allahumma, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya? Maka Abu Hurairah menjawab: ‘Allahumma, benar!’. Dan pemuda itu melanjutkan: ‘Maka aku bersaksi dengan nama Allah, Anda telah mencintai musuh­Nya dan telah memusuhi wali­Nya’. Kemudian ia bangkit dan pergi. 

Samurah bin Jundab ­ Jual Hadis Pada Muawiyah Contoh lain adalah hadis oleh Samurah bin Jundab. Diriwayatkan di bagian lain bahwa Mu’awiyah mengadakan tawar menawar dengan Samurah bin Jundab. Mu’awiyah menawar 100.000 dirham bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, yaitu ayat: ‘Dan di antara manusia ada orang yang menakjubkan kau. Karena perkataannya tentang kehidupan di dunia ini. Dan yang bersaksi kepada Allah atas kandungan hatinya. Padahal ialah pembangkang yang paling keras. Dan bila ia berbalik, ia berusaha menebarkan kerusakan dimuka bumi. Dan membinasakan tanam­tanaman dan ternak. Sedang Allah tiada suka kerusakan’.172 Dan ayat kedua berkenaan Ibnu Muljan’ 173 : ‘Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan jiwanya untuk mencari keridaan Allah. Allah Maha Penyantun terhadap hamba­hamba­Nya.174 167 Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah, Abu Hurairah, Darul Ma’arif, Mesir, hlm. 57. 168 Ibnu ‘Abd Rabbih, Iqdal­Farid, jilid 6, hlm. 101. 169 Bukhari, Muslim; lihat juga Mahmud Abu Rayyah, Syaikh al­Mudhirah, hlm. 236 170 Ibn Abil­Hadid, Syarh­Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 67 171 Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 69. 172 Al­Qur’an, al­Baqarah (II), 204­205. 173 Pembunuh Imam Ali. 174 Al­Qur’an, al­Baqarah (11), 207. 

Dan Samurah bin Jundab tidak menerima. Mu’awiyah menaikkan 200.000 dirham. Ia belum mau. Dan Mu’awiyah menaikkan 300.000 dirham dan ia masih menolak. Mu’awiyah naikkan 400.000 dirham baru diterima Samurah. 175 Samurah bin Jundab pernah sebentar jadi gubernur di Bashrah dan ia membunuh Syi’ah Ali sebanyak 8.000 orang atas petunjuk Mu’awiyah. Thabari menceritakan dari jalur Muhammad bin Salim yang berkata: ‘Aku bertanya kepada Anas bin Sirin: ‘Apakah Samurah pernah membunuh seseorang?’. Anas menjawab: ‘Apakah kau tahu berapajumlah orang yang dibunuh Samurah bin Jundab?’ Ia mengganti Ziyad di Bashrah, kemudian Kufah dan ia telah membunuh 8.000 orang’. Suatu ketika Ziyad bertanya kepadanya: ‘Tidakkah engkau takut telah membunuh orang secara sewenang­wenang?’ Samurah menjawab: ‘Tidak, andaikata yang kubunuh seperti mereka, aku tidak takut!’ Abu Siwar al­’Adwi berkata: ‘Samurah telah membunuh dari kaumku dalam satu pagi hari 47 pemuka agama’. Contoh lain lagi adalah Abdullah bin Umar. Ibnu Umar: Ali Tidak Masuk Khalifah Rasyidun Abdullah bin Umar, yang sering disebut Ibnu Umar, anak khalifah Umar bin Khaththab, tidak mau membaiat Ali, tapi ia membaiat Mu’awiyah setelah ‘Tahun Persatuan’, Yazid dan ‘Abdul Malik. Ia juga shalat di belakang Hajjaj bin Yusuf, gubernur ‘Abdul Malik. Diceritakan tatkala ia mengulurkan tangan untuk membaiat Hajaj, Hajjaj bin Yusuf memberikan kakinya. Ibnu Umar adalah pembuat hadis terbanyak sesudah Abu Hurairah. Ummu’l mu’minin Aisyah nomor empat. 176 Ibnu Umar juga dituduh menghidupkan ijtihad ayahnya. 

Beberapa hadisnya mengenai kuutamaan (fadha’il) akan dikemukakan disini: Ibnu Umar berkata: ‘Kami tidak memilih­milih antara sesame kami dizaman Rasul saw dan kami memilih Abu Bakar, kemudian Unar bin Khaththab kemudian Utsman bin ‘Affan ra’.177 Dan di bagian lain 178 : ‘Kami di zaman Nabi saw tidak mendahulukan Abu Bakar dengan siapapun, kemudian Umar kemudian Utsman, kemudian kami meninggalkan sahabat Nabi yang lain, kami tidak saling mengutamakan di antara mereka’ dan lain­lain. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Thabrani dari Ibnu Umar: ‘Kami berbicara pada saat Rasul Allah saw masih hidup: ‘Yang paling utama di antara manusia adalah Nabi saw, setelah beliau Abu Bakar, kemudian Umar dan kemudian Utsman. Rasul Allah mendengarnya dan beliau tidak mengingkarinya. 179 Sunni menolak hadis ini, karena Sunni juga mengakui Ali sebagai khalifah lurus yang keempat. Orang hanya mengatakan bahwa Ibnu Umar tidak menyebut Ali karena ia tidak membaiat Ali. Ibnu Umar baru berumur 15 tahun waktu pecah perang Khandaq. Oleh karena itu Ali bin al­Ja’d misalnya mengatakan: Lihat anak itu, mengurus istri saja tidak bisa, lalu dia berani mengatakan ‘Kami mengutamakan..!180 Maka bila ada hadis yang berpasangan, misalnya, yang satu untuk Ali dan yang satu lagi untuk ‘Abu Bakar atau Umar atau Utsman maka telitilah. Lihatlah konteks keluarnya hadis itu. Misalnya ada hadis ‘Rasul menutup semua pintu kecuali pintu (bab) untuk Ali. Tapi ada pula hadis serupa ‘Rasul menutup semua pintu kecuali pintu (Khaukhah) untuk Abu Bakar. Atau hadis yang diucapkan Rasul pada saat akan wafat: ‘Bawalah kemari tinta dan kertas agar kutuliskan bagimu surat agar kamu tidak akan pernah tersesat sepeninggalku’ 181 . Hadis di atas ada pasangannya yang dimuat dalam shahih Bukhari, Muslim dan shahih­shahih lain yang diriwayatkan Aisyah bahwa Rasul saw pada saat sakit berkata kepadanya: ‘Panggil ayahmu, aku akan menulis untuk Abu Bakar sebuah surat, karena aku takut seseorang akan mempertanyakan atau menginginkan (kekhalifahan), karena Allah dan kaum mu’minin menolakinya, kecuali Abu Bakar’. 182 175 Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 4, hlm. 73. 176 

Abu Hurairah menyampaikan 5374 hadis, Ibnu ‘Umar 2630, Anas bin Malik 2286 dan ‘A’isyah 2210. 177 Shahih Bukhari dalam Kitab al­Manaqib, bab Keutamaan Abu Bakar sesudah Nabi, dari jalur ‘Abdullah bin ‘Umar, jilid 5, hlm. 243. 178 Shahih Bukhari dalam Kitab al­Manaqib, bab Keutamaan ‘Utsman, dari jalur‘Abdullah bin ‘Umar jilid 5, hlm. 262. 179 Fat’hal­Bari, jilid 7, hlm. 13. 180 Khatib, Tarikh, jilid 11, hlm. 363. 181 Akan dibicarakan di bagian lain. 182 Lihat juga Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 6, hlm. 13 Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 51 Atau untuk menerangkan keterlambatan penguburan Rasul timbul sebuah hadis yang berasal dari Aisyah bahwa orang berselisih paham mengenai tempat penguburan Rasul dan untung Abu Bakar ingat sabda Rasul bahwa tiap Nabi dikuburkan di tempat ia wafat. Dan padanannya adalah hadis yang berbunyi: “Antara kamarku dan mimbarku adalah taman dari taman­taman di surga’. Dan penguburan dilakukan oleh keluarga Rasul saw dan tidak dihadiri Abu Bakar yang diakui oleh Aisyah. Hadis Sepuluh Masuk Surga Hadis ini menyangkut sepuluh orang yang telah dinyatakan akan masuk surga (sepuluh yang mendapat kabar gembira masuk surga), yang dilaporkan oleh Sa’id bin Zaid, ipar Umar bin Khaththab, di zaman Mu’awiyah. Baiklah kita ikuti riwayat munculnya hadis ini di zaman ‘pengucilan’ Ali bin Abi Thalib ini. Said meninggal dunia tahun 51 H/671 M. Di tahun itu juga Mu’awiyah membunuh Hujur bin ‘Adi bersama dua belas kawan­kawannya. Ibnu Atsir meriwayatkan bahwa pemulanya ialah Mughirah bin Syu’bah, gubernur yang diangkat Mu’awiyah di Kufah, melaknat Ali dan Hujur membantahnya. Pada tahun 40 H/660 M, Mughirah bin Syubah digantikan oleh Ziyad bin Abih yang mengejar dan menganiaya siapa saja yang tidak mau mencerca Ali bin Abi Thalib. Hadis ini timbul pada masa itu, dengan lafal: ‘Pada suatu ketika, di masjid (Kufah), seseorang telah menyebut (melaknat pen.) Ali bin Abi Thalib. Maka berdirilah Said bin Zaid seraya berkata: ‘Aku bersaksi dengan nama Rasul Allah saw bahwa sesungguhnya aku mendengar beliau bersabda, ‘Sepuluh orang masuk surga: Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ‘Auf’. Kemudian orang bertanya, ‘Siapa yang kesepuluh?’ Setelah ditanyakan berkali­kali, ‘Sa’id bin Zaid’ menjawab, ‘Aku’. 

Dalam lafal yang lain, nama Abu Ubaidah bin al ‘Jarrah disebut, sedang Nabi tidak dimasukkan. 183 Dalam kemelut seperti itu, Said bin Zaid’ telah bertindak sangat berani. Orang­orang yang disebut oleh ‘Sa’id bin Zaid’ sudah tepat. Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah pernah bergesekan dengan Ali, mengepung dan hendak membakar rumah ‘penghulu wanita mu’minin’ Fathimah, ‘meskipun Fathimah ada di dalam’, sebagaimana nanti akan terbaca dalam peristiwa Saqifah. Utsman adalah dari marga Umayyah, marganya Mu’awiyah. Thalhah dan Zubair memerangi Ali dalam perang Jamal. Ali menyebut mereka sebagai kelompok Nakitsun, yaitu kelompok yang membatalkan baiat, karena mereka berdua merupakan orang­orang pertama yang membaiat Ali, tetapi kemudian berbalik memeranginya. Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Ali setelah Utsman meninggal dunia. Abdurrahman bin ‘Auf ­meskipun kemudian menyesal­ pernah mengancam akan membunuh Ali dengan pedang, bila Ali tidak membaiat Utsman dalam Syura yang dibentuk oleh Umar. Dengan cerdiknya, ‘Sa’id’ memasukkan nama Ali untuk mencegah para penguasa mengutuk Ali di mimbar­mimbar seluruh desa dan kota dan secara tidak langsung berusaha menyelamatkan kaum Syi’ah agar tidak dibantai seperti Hujur. Dan untuk menyelamatkan dirinya, ‘ia’ memasukkan namanya pula. Hadis ini, ditinjau dari segi sejarah, tidak dapat ditafsirkan lain dari itu. Hadis yang merupakan ‘pemberontakan’ terhadap penguasa yang zalim seperti ini, tidak dapat dikatakan salah, tetapi tidak juga dapat dikatakan benar. Riwayat di atas kemungkinan besar dibuat orang dengan mengatas namakan Sai’id bin Zaid. Imam Malik, misalnya, meriwayatkan: Rasul Allah saw bersabda kepada para Syuhada’ Perang Uhud: ‘Aku menjadi saksi mereka (bahwa mereka telah mengorbankan nyawa mereka) di jalan Allah’. Dan berkatalah Abu Bakar ash­Shiddiq: ‘Wahai Rasul Allah, bukankah kami saudara­ saudara mereka? Kami memeluk Islam seperti mereka, dan kami berjihad seperti mereka berjihad!’. Dan Rasul Allah menjawab: ‘Ya, tetapi aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan sesudahku’. Dan menangislah Abu Bakar sambil berkata: ‘Apakah kami akan masih hidup sesudahmu? 

184 Perawi ‘sepuluh orang masuk surga’ tidak menceritakan kepada kita dalam hubungan apa Rasul Allah saw menyampaikan hadis ini, dan siapa saja yang ikut mendengarkan. 183 Tirmidzi, dalam Jami’­nya, hlm. 13, 183, 186, dan lain­lain. Hadis ini melalui ‘Abdurrahman al­Akhnas, yang didengamya sendiri di masjid Kufah. Jalur lain melalui ‘Abdurrahman bin Hamid yang didengarnya dari ayahnya; ayahnya mendengar dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Hadis yang disebut ini dianggap batil, karena ayah ‘Abdurrahman bin Hamid, yang bernama az­Zuhri, adalah seorang tabi’i (generasi kedua), bukan Sahabat. Ia lahir 32 H., 653 M. dan meninggal 105 H, 723 M. dalam usia 73 tahun, sedang ‘Abdurrahman bin ‘Auf meninggal 31, 652 M.atau 32 H., 653 M. Dengan kata lain, Zuri lahir pada saat ‘Abdurrahman bin ‘Auf meninggal atau setahun sesudahnya. Dengan demikian maka satu­satunya jalur adalah yang melalui Said bin Zaid. 184 Ibn Abil­Hadid, Syarh Nahju’l­Balaghah, jilid 15, hlm. 37, al­Waqidi, Maghazi, jilid 1, hlm. 3 10; berasal dari Thalhah bin ‘Ubaidilllah, Ibnu ‘Abbas dan Jabir bin ‘Abdullah. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 52 Dan mengapa Sa’id, misalnya, tidak berdiri di depan massa yang sedang mengepung rumah Utsman yang berakhir dengan pembunuhan khalifah ketiga itu dan mengatakan kepada mereka hadis yang penting ini? Mengapa Sa’id bin Zaid, misalnya, tidak menasihati Abdullah bin Umar agar membaiat Ali tatkala terjadi pembaiatan terhadap Ali sesudah Utsman terbunuh, karena bagaimanapun juga Ali termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasul Allah? Malah membaiat Mu’awiyah, Yazid dan ‘Abdul Malik serta Hajjaj bin Yusuf? Mengaa tidak menasihati ummu’l­mu’minin Aisyah dan menyampaikan hadis itu agar ia tidak memerangi Ali dan agar menetap di rumahnya sebagaimana diperintahkan Al­Qur’an? 

Mengapa pula Thalhah dan Zubair dimasukkan ke dalam sepuluh masuk surga dan bukan, misalnya, Abu Dzarr al­Ghifari dan Hamzah paman Rasul? Mengapa pula Sad bin Abi Waqqash dimasukkan ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan misalnya Miqdad atau Abu Ayyub at­ Anshari? Begitu pula Abu Ubaidah bin al­Jarrah, seorang penggali kubur di Madinah dimasukkan pula ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan, misalnya Salman al­Firisi? Meskipun menyesal di kemudian hari Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Imam Ali sedang Rasul mengatakan bahwa ‘barangsiapa tidak mengenal imam pada zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliah’. Dan hadis ini diakui sebagai hadis shahih di semua mazhab? Apakah surga ini hanya diperuntukkan bagi para khalifah dan mereka. yang ikut dalam pergolakan kekuasaan dan bukan orang­orang seperti ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzarr al­ Ghifari atau Salman al­Farisi? Lagi pula dalam Al­Qur’an, Allah SWT telah berfirman185 : “Dan barangsiapa melalukan amal kebajikan, laki­laki maupun perempuan, sedang ia orang beriman, mereka itu masuk surga”. (An­Nisa’: 124) “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga­surga yang mengalir sungai­sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah­buahan dalam surga­surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah­buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri­isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya di syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani.” (Al­Baqarah: 25) “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal.” (At­Taubah: 21) “Sesungguhnya orang­orang yang beriman dan mengerjakan amal­amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni­penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya.” (Hud: 23) “Sesungguhnya Allah memasukkan orang­orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga­surga yang di bawahnya mengalir sungai­sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al­Hajj: 14) “Adapun orang­orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan.” (As­Sajdah: 19) “Supaya Dia memasukkan orang­orang mukmin laki­laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai­sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan­kesalahan mereka. dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah.” (Al­Fat’h: 5) “Seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat­ayat Allah yang menerangkan supaya Dia mengeluarkan orang­orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. dan Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga­surga yang mengalir di bawahnya sungai­sungai; mereka kekal di dalamnya selama­lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.” (Ath­ Thalaq: 11) 185 Al­Qur’an, s. an­Nisa’ (IV), 124; lihat juga, s. al­Baqarah (11), 25; at­Taubah (IX), 21; Hud (XI), 23; al­Hajj (XXII), 14; as­Sajdah (III), 19; al­Fat’h (XLVIII), 5; ath­Thalaq (LXV), 11; at­Taubah (IX), 72 

 “Allah menjanjikan kepada orang­orang mukmin, lelaki dan perempuan, surga yang dibawahnya mengalir sungai­sungai, kekal mereka di dalamnya, dan tempat­tempat yang bagus di surga ‘Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (At­Taubah: 72) Rasul Allah juga telah bersabda: Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Sampaikanlah kabar gembira kepada umatmu, bahwa barang siapa meninggal dunia tanpa menyerikatkan sesuatu kepada Allah SWT, maka ia akan masuk surga’. Aku bertanya: ‘Hai, Jibril, meskipun ia pernah mencuri dan berzina? Jibril menjawab, ‘Betul’ (sampai tiga kali). Akhirnya Jibril menjawab, ‘Betul, meskipun ia peminum minuman keras.186 Nabi juga bersabda: Sampaikanlah kabar gembira, bahwa barangsiapa mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah secara tulus, maka ia akan masuk surga. 187 Nabi iuga bersabda: “Sesungguhnva Allah SWT telah menjanjikan kepadaku bahwa Ia akan memasukkan ke dalam surga 70.000 (ada yang mengatakan 700.000) orang dari umat­Ku tanpa hisab.” 188 Rasul Allah juga berkata: “Ali dan Syi’ahnya masuk surga”. 189 Hadis seperti ini banyak diriwayatkan. 190 Juga hadis shahih lainnya, seperti Shuhaib, Shahabat Rasul yang orang Roma, masuk surga, Bilal Sahabat dari Habasyah, masuk surga, Salman yang dari Persia masuk surga, Hasan dan Husain masuk surga, ‘Amr bin Tsabit masuk surga, Tsabit bin Qais dan berpuluh­puluh lainnya yang tidak mungkin disebut disini. Yang masuk surga tidak dapat dibatasi pada mereka yang berhasil menduduki kekhalifahan atau yang ikut dalam pergolakan politik dan tidak dapat dibatasi pada sepuluh orang. Alangkah banyaknya umat Muhammad yang akan masuk surga. Law, dapatkah orang­orang yang akan masuk surga ini, termasuk para Sanabat, berbuat salah? 

Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan sebaliknya. Tiada sebuah hadis pun yang mengatakan bahwa para Sahabat atau Ibu­ibu Kaum Mu’minin (ummahat al­muminin) tidak dapat berbuat salah. Kemudian, apakah penghormatan kita kepada para Sahabat atau para Ibu Kaum Mu’minin akan berkurang dengan menulis sejarah sebagaimana adanya? Tidak, kita akan tetap menghormati para Sahabat dan para Ibu Kaum Mu’minin sebagaimana mestinya. Ibu kita adalah tetap ibu yang kita hormati, andaikata pun dia berbuat salah kepada anaknya sendiri. Ali bin Abi Thalib mengatakan demikian terhadap ummu’l­mu’minin Aisyah. Hisab dan pengampunan ada pada Allah. Hadis­Hadis Keutamaan Hampir pada semua pengantar buku tentang Saqifah, para penulis sejarah tradisional memulai dengan hadis tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar. Misalnya, tulisan Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (M. 270 H/883 M.) dalam kitab tarikhnya al­Imamah wa’s­ Siyasah yang terkenal dengan Tarikh Khulafa’ur Rasyidin wa Daulah Banii Umayyah jilid pertama. Dalam kata pengantarnya yang berjudul “Keutamaan Abu Bakar dan Umar”, ia mengemukakan empat hadis tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar, dengan rangkaian isnad yang lengkap. Hadis yang pertama dilaporkan oleh Ali bin Abi Thalib, kedua oleh Abdullah bin Abbas, ketiga oleh Ali lagi, sedang yang keempat oleh Qasim bin Abdurrahman. 186 Hadis ini sangat terkenal, diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tirmidzi, Nasa’i Ibnu Habban, yang berasal dari Abu Dzarr al­Ghifari. 187 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, melalui jalur Abu Musa al­Asy’ari 188 Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka 189 Rasul bersabda: “Aku adalah gudang ilmu, dan ‘Ali adalah pintunya.” Orang menganggap ‘Ali sebagai tempat bertanya sesudah Rasul. 

Teman­teman ‘Ali ini disebut Syi’ah ‘Ali. Dalam menafsirkan ayat, “Sungguh orang­orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk yang sebaik­baiknya.” (Al­ Qur’an, 97:7) Suyuthi meriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari ‘Ali bin Abi Thalib yang berkata: ‘Rasul Allah saw bersabda kepadaku: “Apakah engkau tidak mengetahui firman Allah SWT: ‘Sungguh orang­orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk yang sebaik­baiknya? (Mereka itu adalah) engkau dan Syi’ahmu. Aku dan kamu telah dijanjikan tempat di Haudh’. Juga Suyuthi dari Ibnu ‘Asakir yang berasal dari Jabir dari Ibnu ‘Abbas : “Kami berada bersama An­Nabi dan muncullah ‘Ali dan Nabi bersabda: ‘Demi Dia yang jiwaku berada di tanganNya. (Yang datang) ini, beserta Syi’ahnya, merekalah yang menang pada hari kiamat’. Dan turunlah ayat: Sesungguhnya orang­orang yang beriman dan melakukan amal kebajikan, merekalah makhluk yang sebaik­baiknya. Demikianlah para Sahabat Nabi bila (melihat) ‘Ali muncul, mereka berkata: “Telah datang khairul Bariyyah”. 190 Lihat Khwarizmi dalam Manaqib, hlm. 66; Suyuthi dalam ad­Durru’l­Mantsur, jilid 6, hlm. 379; 392; Syablanji dalam Nuru’l Abshar, hlm. 78 dan 112; Ibnu Hajar dalam Shawa’iq dan lain­lain. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 54 Sebagai contoh, baiklah kita ikuti hadis pertama secara lengkap, sekaligus sebagai contoh bagaimana pencatat sejarah zaman dulu merangkaikan isnad atau jalur pelapor 191 : “Telah disampaikan kepada kami oleh Abi Mariam yang berkata: telah disampaikan kepada kami oleh Asad bin Musa yang berkata: telah disampaikan kepada kami oleh Waqi’ dari Yunus bin Abi Ishaq, dari Asy­Sya’bi, dari Ali bin Abi Thalib, karramallahu wajhahu; “Aku sedang duduk bersama Rasul Allah saw ketika datang Abu Bakar dan Umar maka bersabdalah Rasul Allah saw kepadaku: ‘Mereka berdua itulah penghulu orang dewasa di surga, sejak orang terdahulu sampai pada orang terakhir, kecuali para Nabi dan para Rasul as; dan janganlah engkau sampaikan berita ini kepada mereka berdua, wahai Ali.’ 

Lafal ketiga hadis lainnya sejenis itu pula. Hadis seperti ini sangat banyak. Para penulis itu ingin menunjukkan bahwa pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah pertama berlangsung secara lancar dan wajar, karena yang berhak menjadi khalifah ­sekurang­kurangnya menurut penulis itu­ adalah Sahabat paling utama; dan yang paling utama di antara seluruh umat manusia, selain para Nabi dan Rasul, adalah Abu Bakar dan Umar. Karena itu maka merekalah yang paling pantas menjadi khalifah; dan Ali sendiri konon mendengar hal ini langsung dari Rasul. Tetapi, dalam bab ‘Bagaimana Baiat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu’, Ibnu Qutaibah memulai dengan kalimat­kalimat berikut: “Sesungguhnya Abu Bakar merasa kehilangan suatu kaum yang enggan membaiatnya, yang sedang berkumpul di rumah Ali. Mereka tidak mau keluar untuk membaiat Abu Bakar. Umar lalu mengumpul kayu bakar, seraya berkata: ‘Demi Allah, Pemilik jiwa Umar, kalau kalian tdak segera keluar, aku akan bakar rumah ini dengan seluruh isinya’. Orang lalu berkata kepada Umar: ‘Wahai, Ayah Hafshah (Umar), Fathimah (puteri Rasul Allah) ada di dalam!’ Dan Umar menjawab: Sekalipun!” 192 Hadis­hadis keutamaan seperti itu sungguh sangat tidak adil, bertentangan dengan fakta sejarah. Sekiranya benar Ali bin Abi Thalib pernah mendengar Rasul Allah bersabda demikian, jalannya sejarah tidak akan seperti itu. Dalam kumpulan khotbah, ucapan dan tulisan Ali yang dikumpulkan dalam Nahju’l Balaghah, tidak ditemukan hadis semacam itu. Bila kita hendak berlaku jujur, hadis seperti ini haruslah dianggap sebagai “hadis­hadis politik” yang muncul untuk membenarkan kekuasaan de facto. Ini merupakan preseden timbulnya kebiasaan mendukung pemerintahan de facto oleh kebanyakan ulama Sunni, seperti yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman. 193

Riwayat dan Hadis Abu Hurairah Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan­keutamaan Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para Sahabat lain. Tetapi sehubungan dengan peristiwa Saqifah, riwayat dan hadis yang disampaikan Abu Hurairah, harus dipandang dengan kritis. Asal­usul Abu Hurairah, Hanya 1 Tahun 9 Bulan di Shuffah Abu Hurairah datang kepada Rasul Allah pada bulan Safar tahun 7 Hijriah, Juni 628 M, setelah Perang Khaibar. Kaum dari klan ad­Daus, klan Abu Hurairah, dan kaum al­’Asy’ari mendatangi Rasul Allah tatkala Rasul berada di Khaibar. Kaum ‘Asy’ari terlambat mengunjungi Rasul, seperti diceriterakan Abu Musa al­’Asy’ari, karena sedang berperang dengan kaum kafir. Tentang Abu Hurairah biarlah ia sendiri yang menceriterakan: Aku mendatangi Rasul Allah yang pada waktu itu berada di Khaibar, setelah Khaibar ditaklukkan, dan aku berkata: “Ya Rasul Allah adakah bagian untukku? Tolong bicarakan dengan kaum Muslimin itu untuk membagikan bagian mereka dengan kami.” 194 Ia kemudian tinggal di emperan Masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Dzulqaidah tahun 8 Hijriah/Maret 630 M, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani al­’Ala’ al­ Hadhrami sebagai mu’azin. Sedang peristiwa Saqifah terjadi pada tahun 11 H/8 Jum 632 M. Dengan demikian ia tinggal di Shuffah selama 1 tahun 9 bulan. Ia meninggal tahun 59 Hijriah. Dan umat Islam kehilangan sahabat yang paling banyak menyampaikan hadis. 

Abu Muhammad bin Hazm meriwayatkan dari Abu Abdurrahman Baqi Ibnu Mukhallad al­Andalusi yang mencatat dalam “Musnadnya” bahwa Abu Hurairah meriwayatkan 5374 hadis, di antaranya Bukhari meriwayatkan 446 hadis. 191 Ibnu Qutaibah, Tarikh al­Khulafa’ur Rasyidin, Mesir, tanpa tahun, hlm. 1­2. 192 Ibnu Qutaibah, Tarikh, ibid, hlm. 12. 193 Fazlur Rahman, Membuka Pintu Ijtihad, terjemahan Anas Mahyuddin, Pustaka Bandung, 1984. Pada hlm. 137, ia menulis, “Orang­orang Sunni hampir selalu menjadi pendukung setiap pemimpin Negara” 194 Fat’hul­Bari, jilid 6, hlm. 31 jilid 7, hlm. 393. Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah 55 Berbeda dengan para sahabat lain, para ahli sejarah tidak dapat memastikan nama yang sebenarnya dari Abu Hurairah, namanya di zaman jahiliah maupun di zaman Islam. Begitu pula asal usulnya. Abu Hurairah adalah nama julukan yang berarti Ayah Anak Kucing. Menurut ceritanya ia pernah bekerja sebagai buruh pengembala dan sering membawa anak kucing bersamanya. Dari situlah ia diberi gelar Abu Hurairah. 195 Ia sendiri menceritakan bahwa ia mendatangi Rasul bukan karena ia mendapat hidayat atau karena kecintaannya kepada Nabi saw seperti yang lain, tetapi untuk mendapatkan makanan. Dalam riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah berkata: ‘Aku adalah seorang miskin, aku bersahabat dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku’. Dan dalam riwayat lain: ‘untuk memenuhi perutku yang lapar’. 

Dalam riwayat Muslim: ‘Aku melayani Rasul Allah untuk mengisi perutku’, atau ‘Aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku’. Ia mendatangi para sahabat seperti Umar dan Abu Bakar dengan berpura­pura meminta dibacakan sebuah ayat al­Qur’an, menurut pengakuannya sendiri, padahal ia ingin agar ditawarkan makanan, tetapi tiada seorang sahabat pun menawarkan makanan kepadanya kecuali Ja’far bin Abi Thalib yang langsung mengajak Abu Hurairah ke rumahnya. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Demi Allah, tiada lain kecuali Dia, aku sering menekan perutku ke bumi karena lapar, dan pada suatu hari, karena lapar aku menekan perutku dengan batu sambil duduk di jalan tempat mereka keluar dari masjid. Aku bertemu dengan Abu Bakar dan aku bertanya kepadanya tentang ayat Kitab Allah, dan aku tidak menanyainya kecuali (dengan maksud) agar dia memberi aku makan; tapi ia berlalu dan tidak melakukannya. Dan Umar bertemu denganku dan aku bertanya mengenai ayat Kitab Allah, aku tidak bertanya (kepadanya) kecuali agar ia mengajak aku makan, dan ia tidak melakukannya.’ 196 Bukhari: ‘Aku, bila bertanya mengenai sebuah ayat (al­Qur’an) kepada Jafar (bin Abi Thalib) maka dia tidak akan menjawab kecuali setelah ia mengajakku ke rumahnya’. Di bagian lain: ‘Aku meminta kepada Jafar bin Abi Thalib untuk membacakan kepadaku ayat (Al­Qur’an), yaitu artinya, agar dia memberi aku makan, dan dia adalah orang yang paling baik terhadap orang miskin; Jafar bin Abi Thalib. Ia mengajak kami ke rumahnya dan memberi kami makan seadanya’. 197 Tirmidzi meriwayatkan: ‘Dan bila aku bertanya kepada Jafar mengenai ayat, ia tidak menjawab (pertanyaanku) sampai ia tiba di rumahnya’. 

Menurut Abu Hurairah, Ja’far­lah yang terbaik di kalangan sahabat. Hadis mengenai ‘laparnya’ Abu Hurairah ini, banyak jumlahnya. Lalu di mana ‘pundi­pundinya’? (Lihat hadis ‘mizwad’ atau pundi­pundi). Kepribadian Abu Hurairah Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala kembali dari Bahrain, Umar bin Khaththab mencurigainya menggelapkan uang baitul mal. Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menyebutnya sebagai musuh Allah dan musuh kaum Muslimin, dalam riwayat lain, musuh Kitab Allah atau musuh Islam. 198 Abu Hurairah pada masa itu menjadi gubernur ketiga di Bahrain sesudah al ‘Ala’ al­Hadrami dan Qudamah bin Mazh’un. Jarud al­’Aqdi datang kepada Umar dari Bahrain dan melaporkan bahwa Qudamah bin Mazh’un minum minuman keras dan mabuk. Umar bertanya: ‘Siapa yang menyaksikan bersama Anda?’ Jarud: ‘Abu Hurairah!’. Umar memanggil Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata: ‘Aku tidak melihatnya minum, tetapi aku melibatnya mabuk dan muntah­muntah’. Umar berkata: ‘Engkau telah mengubah kesaksian!’ Dan Umar menyuruh panggil isteri Qudamah yang bernama Hindun binti al­Walid, dan Hindun memberikan kesaksian yang benar dan memberatkan suaminya... ‘Qudamah adalah pengikut Perang Badr satu­satunya yang dihukum Umar karena minum minuman keras’. 199 195 “Ada sektar 30 nama Abu Hurairah dan ayahnya”, kata an­Nawawi. Al­Halabi mengatakan sekitar 40 nama. Demikian pula al­Hakim dan Ibnu Hajar, al­Isha­bah, jilid 7, hlm. 199. Ibnu ‘Abdi’l­Barr mengatakan dalam alIstiab bahwa demikian banyak perselisihan tentang namanya maka ia harus dipanggil dengan kunya ‘Ayah Anak Kucing’ saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar